Ibumu Menanti

Bumper Radio Rodja 756 AM

ibumu

” Aku membawamu 9 bulan.. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi rasa cinta dan kasih sayangku kepadamu. Bahkan, ia tumbuh bersama berjalannya waktu.. Aku mengandungmu wahai anakku, pada kondisi lemah di atas lemah.. Bersamaan dengan itu, aku begitu gembira! Tatkala merasakan, melihat tendangan kakimu, atau balikkan badanmu di perutku.. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti dengan begitu kau sehat wal ‘afiat di dalam rahimku, anakku..

Sampailah tiba pada fajar pada malam itu, aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.. Sakit itu berlanjut, sehingga membuatku tidak lagi dapat menangis.. Saat itu pula aku melihat kematian di hadapanku. Hingga tiba waktunya, engkau keluar ke dunia.. Engkau lahir! Bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu.. Engkau lahir.. Menetes air mataku.. Sirna keletihan dan kesedihanku.. Hilang semua sakit dan penderitaan. Bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit.. Aku meraih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum ku minum satu tetes air di kerongkonganku.. ”

Wahai hamba Allah..

Inilah ibumu memanggilmu..
Inilah ibumu membutuhkan kasih sayangmu..

Akankah engkau campakkan dia?
Akankah engkau biarkan dia merana?
Akankah engkau biarkan dia dalam kesendirian?

” Anakku, anakku.. Ibu tidaklah meminta banyak. Ia tidaklah menagih yang bukan-bukan, yang ibu pinta kepadamu, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu dan ibu memohon kepadamu nak.. Janganlah engkau pasang jerat tali permusuhanmu denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika ibu hendak memandang wajahmu.. Anakku.. Telah bungkuk punggungku, bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan usia dan telah digerogoti oleh penyakit. Berdirinya seharusnya telah dipapah, duduk pun seharusnya di bopong.. Akan tetapi, yang tidak pernah sirna anakku, adalah cintaku kepadamu masih seperti dulu.. “

Akankah engkau biarkan dia merana?
Akankah engkau biarkan ia dalam kesendirian?

Setelah begitu besar pengorbanannya untukmu..

Engkau melupakan dia..

Ibu adalah harta simpanan yang hilang dari orang-orang yang durhaka, dan harta simpanan yang berharga bagi orang-orang yang berbakti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s